Rabu, 15 September 2010

Awan ‘UFO’ Di Langit Moscow ?

Lebih seminggu yang lalu di langit Moskow muncul fenomena alam misterius . Mirip dengan fenomena alam awan halo (lingkaran cahaya yang mengelilingi matahari / bulan). Namun, bentuk bulat sempurna seperti cincin pada fenomena halo ini lebih misterius,mirip-mirip pesawat UFO dalam film Independence Day.
Seperti dilansir harian Daily Mail, awan berbentuk cincin itu terlihat bercahaya. Selain pancaran cahayanya berkilau , bentuk cicin pada awan itu terlihat mengingatkan kita pada bagian bawah pesawat UFO dalam film-film Hollywood.
Kilauan emas agak pucat pada cincin awan itu terlihat di atas langit Ibu Kota Rusia, pada Rabu, 7 Oktober 2009. Tepatnya di bagian barat distrik Moskow. Fenomena alam itu akhirnya diabadikan beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Badan Meteorologi setempat menolak berbagai teori yang menyangkut hal-hal gaib. Menurut mereka, secara ilmiah bahwa, bentuk cincin misterius itu merupakan dampak optik dari fenomena alam yang sedang terjadi.
Juru bicara Badan Meteorologi setempat menyatakan, beberapa bagian ‘bidang permukaan’ pada awan itu terlihat melintas di Moskow.
“Ini juga dipengaruhi adanya gangguan udara di daerah Kutub Utara. Matahari terbit dari barat, ini adalah salah satu pemicu utamanya,” kata juru bicara tadi.
Sekadar mengingatkan, di wilayah Indonesia, matahari terbit dari Timur, dan terbenam di Barat.
Menurut dia, fenomena alam itu murni kejadian ilmiah. Meskipun tampakan dari fenomena itu lebih mengesankan dari kejadian halo biasa. “Jika kalian melihat lebih dekat, maka akan terlihat cahaya keluar dari awan itu,” kata dia

Senin, 13 September 2010

Umat Islam jangan terprovokasi

Gereja evangelis di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, tampaknya tetap akan menjalankan rencananya untuk membakar Alquran saat memperingati sembilan tahun tragedi runtuhnya menara kembar WTC pada 11 September. Pemimpin The Dove World Outreach Center, Pendeta Terry Jones, menegaskan aksinya itu dilakukan untuk memberikan pesan khusus bagi kelompok radikal Islam.
Aksi itu mereka beri nama ‘international burn the Quran day' atau 'hari pembakaran Al Quran sedunia'.
''Kita harus mengirim pesan yang jelas bagi elemen radikal Islam. Kita tak bisa lagi dikendalikan dan didominasi oleh ancaman dan rasa takut yang ditebar mereka,'' kata Jones kepada the Wall Street Journal. Dia mengatakan itu untuk menanggapi desakan agar rencana itu dibatalkan, khususnya yang disampaikan oleh Komandan pasukan AS di Afghanistan Jenderal David Petraeus yang khawatir pembakaran Alquran hanya akan mengancam jiwa pasukan AS di sana.
Sebelumnya saat diwawancarai AFP pada Juli lalu, Jones menuding Islam dan syariat Islam bertanggung jawab atas tragedi 11 September. ''Kami akan membakar Alquran karena kami pikir inilah saatnya umat Kristen, gereja-gereja, para politikus untuk bangkit dan berkata tidak, bahwa Islam dan hukum syariah tidak diterima di Amerika,'' ujarnya.
Jenderal Petraeus mengatakan tindakan membakar Alquran hanya akan menjadi bahan propaganda pejuang Taliban untuk melawan Amerika Serikat di seluruh negara Muslim. Dia mengatakan itu saat diwawancarai Wall Street Journal, Selasa (7/9). ''Itu bisa membahayakan pasukan dan bisa membahayakan upaya menyeluruh,'' katanya cemas.
 Soal pernyataan Petraeus itu, Jones tak terlalu menanggapinya. Dia hanya mengatakan Komandan perang AS di Afghanistan itu sah-sah saja mengatakan hal tersebut.
Rencana aksi membekar Alquran ini banyak mendapatkan kecaman. Tak hanya umat muslim di dunia yang murka, para pemimpin umat Kristen, baik liberal maupun konservatif, juga mengecam rencana tersebut.
Pendeta, Dr Michael Kinnamon, sekretaris jenderal Dewan Gereja Amerika Serikat mengatakan, pihaknya kembali menegaskan sikap penentangan atas aksi itu. Kata dia, pernyataan ini mewakili jutaan warga AS yang menolak ekspresi anti-muslim yang ditunjukkan sekte itu.
Tindakan membakar Quran, tambah dia, adalah reaksi orang yang ketakutan sekaligus salah paham terhadap sifat sejati ajaran Islam yang damai.
"Kesalahpahaman dan bingung, juga ketidakmampuan untuk mencintai tetangga kita seperti yang dicontohkan Kristus, itu yang ditunjukkan sekte tersebut ketika melecehkan umat muslim dan merencanakan ‘international burn the Quran day'," kata dia.
"Tindakan penuh kebencian tersebut bukan kesaksian atas iman Kristiani," tegas Kinnamon.
Sikap senada juga ditunjukkan organisasi, National Association of Evangelicals yang berbasis di AS.
"Rencana itu...untuk membakar Al Quran pada 11 September menunjukkan sikap tidak hormat kepada tetangga muslim dan justru akan meningkatkan ketegangan antara umat Kristen dan Islam di seluruh dunia," kata organisasi itu dalam pernyataannya. "Kami menuntut rencana pembakaran itu dibatalkan."
Sementara, pendeta senior di Orlando, Florida mengatakan tindakan itu hanya akan memicu masalah.
Melawan terorisme, kata dia, bukan dengan mengobarkan kemarahan. "Melawan api dengan api hanya akan mengobarkannya. Cinta adalah air yang akan memadamkan kehancuran."
Sementara, umat muslim dunia telah bergerak, menentang dan memprotes rencana pembakaran Al Quran.
Senin lalu, ratusan warga Afghanistan berkumpul di ibukota Kabul untuk mengecam pembakaran Al Qur'an. Mereka  berteriak, "Hidup Islam" dan "Matilah Amerika".
Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam di Indonesia tidak terprovokasi dengan gerakan itu.  MUI menegaskan, tidak akan mengeluarkan fatwa atau kecaman. Sebab, ekspresi kemarahan sekelompok kecil orang. MUI menyerukan perlawanan atas aksi itu dilakukan secara damai.
MUI mendesak pemerintah Amerika Serikat (AS) dan tokoh-tokoh agama setempat untuk mencegah hari pembakaran Al Quran. Bila itu terjadi, maka akan ada konflik umat beragama global.
"Jika itu sampai terjadi bisa menyebabkan konflik agama yang meluas di dunia," kata Ketua MUI Ma'ruf Amin di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa 7 September 2010.
Menurut Ma'ruf, pemerintah AS memiliki kewajiban menjaga ketertiban dan keamanan umat beragama di seluruh dunia. Maka itu, MUI juga mendesak pemerintah Indonesia bergerak untuk meminta pemerintah AS mencegah peristiwa itu.
"Tapi bukan bermaksud untuk mencampuri urusan agama," kata dia. MUI juga mengimbau masyarakat tidak terprovokasi dengan isu ini.
Masyarakat diimbau untuk tenang dan tidak mengambil tindakan secara anarki. Karena isu ini sangat rentan memicu perpecahan umat beragama di seluruh dunia.

Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin memrotes rencana pembakaran kitab suci umat Muslim, Al Quran oleh sekelompok agama minoritas di di Florida, Amerika Serikat (AS).
"Ini adalah rencana gila dan hanya dilakukan oleh kelompok agama yang ekstrim dan tidak toleran," tegas Din.
Rencana pembakaran ini rencananya akan dilaksanakan Terry Jones, seorang pendeta sekte kecil di Florida di bawah Dove World Outreach Center, bertepatan dengan peringatan tragedi serangan teroris di New York yang meruntuhkan menara kembar World Trade Center (WTC), 11 September. Hari ini pun bertepatan dengan perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim.
Din menjelaskan sekte minoritas pimpinan Jones ini berada di luar gereja-gereja. "Kami harus protes dan menghalangi jangan sampai (rencana itu) terjadi," kata Din Syamsuddin.
Meski demikian, Din menyampaikan bahwa aksi protes umat Muslim di Indonesia jangan sampai berlebihan.
"Apalagi sampai menularkan konflik itu ke tubuh bangsa Indonesia sendiri," kata Din yang juga aktif di Forum Lintas Agama ini. "Karena itu merusak kehidupan berbangsa."
LAST_UPDATED2
 

 

Situs jejaring sosial

Dalam 10 tahun terakhir, situs jejaring sosial telah menjadi trend sepertiwww.facebookcomwww.twitter.com, dan www.myspace.com. Bagi sebagian anak muda itu sudah menjadi kewajiban tapi bisa mengakibatkan kecanduan bagi anak muda yang seharusnya menggunakan waktu untuk belajar walaupun ada waktu untuk refreshing.